Melacak sejarah makanan kuliner Indonesia kaya dengan budaya

Melacak sejarah makanan kuliner Indonesia kaya dengan budaya

food asia


Ketika pemain sepak bola Manchester United Rio Ferdinand mencoba nasi goreng selama liburan di Singapura tahun lalu, ia, seperti banyak orang lain, membagikan kesannya tentang makanan di media sosial. Dia tweeted: "Makan Siang Nasi Goreng. Menjaga itu lokal di # Singapura."

Segera setelah itu, tweetnya mengangkat alis pengguna Twitter Indonesia. Dengan menggunakan tagar #NasiGorengIndonesia, mereka mengatakan kepadanya bahwa nasi goreng berasal dari Indonesia.

Mirip dengan insiden tweet nasi goreng, sekelompok orang Indonesia mengorganisir demonstrasi di depan kedutaan Malaysia di Jakarta pada tahun 2015, memprotes klaim Malaysia tentang lumpia (lumpia). Para pengunjuk rasa percaya bahwa camilan itu adalah bagian dari warisan kuliner Semarang, Jawa Tengah.

Dari dua kasus tersebut, tampaknya orang Indonesia bereaksi secara emosional ketika datang ke klaim tentang asal-usul makanan.


Dalam bukunya yang baru Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (Archipelago Flavour Trail: History of Indonesian Food), penulis Fadly Rahman mencoba untuk menjelaskan tentang subjek dari perspektif sejarah.

Ketika ditanya tentang nasi goreng, profesor di Universitas Padjajaran menjelaskan bahwa nasi goreng benar-benar terinspirasi oleh hidangan Timur Tengah yang disebut pilaf (nasi yang dimasak dalam kaldu berbumbu).

"Tidak ada bukti sejarah yang membuktikan bahwa [nasi goreng] ini adalah masakan asli Indonesia," katanya. Seperti nasi goreng, risotto di Italia dan paella di Spanyol juga merupakan bentuk pilaf yang dimodifikasi. Diyakini bahwa hidangan ini diperkenalkan oleh pedagang Arab di masa lalu.

"Seperti bentuk teknologi lainnya, memasak mudah ditiru dan dipindahkan," kata sejarawan Inggris Felipe Fernández-Armesto, yang juga dikutip dalam buku itu.

Karena itu, yang terpenting adalah mengakui keaslian warisan kuliner, serta menghargai modifikasi yang diciptakan orang lain nantinya.

Misalnya, orang Italia tidak malu mengakui bahwa pasta diadaptasi dari mie Cina. Menurut laporan, penjelajah Italia Marco Polo membawa makanan ke negara asalnya di abad ke-13.

Namun, Fadly percaya bahwa sikap ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dengan mengambil contoh rendang (daging yang direbus dengan kelapa dan rempah-rempah).

Baca juga: Contoh rendang terbaik di Jakarta

Orang Indonesia percaya bahwa hidangan daging, yang masuk ke dalam 50 makanan CNN paling enak di dunia pada tahun 2011, adalah makanan khas Padang, Sumatra Barat. Namun, ternyata negara tetangga Malaysia memiliki hidangan serupa bernama Kalio.

Kesamaan ini memicu konflik selama Pameran Universal Milan pada 2015, ketika kedua makanan dipromosikan oleh Indonesia dan Malaysia sebagai bagian dari warisan kuliner mereka sendiri.

Fadly percaya bahwa rendang dan Kalio diperkenalkan oleh Portugis selama masa penjajahan di abad ke-16.

Portugis memiliki metode memasak yang dikenal sebagai bafado, yang terdiri dari memasak bahan-bahan secara perlahan, termasuk daging kelapa dan susu, dalam panci atau wajan dengan api kecil sampai semua cairan menguap, yang dapat mengawetkan daging selama berminggu-minggu


Selama petualangan kolonial mereka, menurut laporan, Portugis suka menggunakan metode bafado untuk membuat makanan kemasan. Saat membawa makanan simpanan ini, Portugis mengunjungi Sumatera Barat melalui Selat Malaka dan Pahang di Malaysia.

"Di Malaysia, Kalio basah, tetapi rendang kering," kata Fadly, 35, yang juga menulis Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Kolonial Massa (budaya kuliner di Indonesia selama periode kolonial).

Menurut Fadly, kata balada, yang menggambarkan gaya menumis cabai Minang dalam minyak dengan rempah-rempah lain, seperti bawang dan bawang putih, berasal dari bafado.

Pinjaman Portugis lainnya yang ditemukan dalam menu Indonesia adalah terigu (gandum), papaia untuk pepaya (pepaya), simpan untuk mentega (mentega), dan queijo untuk keju (keju). Dalam bukunya, Fadly mengatakan bahwa makanan Indonesia secara historis kaya akan interaksi harmonis dengan budaya Cina, India, Arab dan Eropa.

"Sayangnya, banyak orang Indonesia masih tidak tahu sejarah dan budaya makanan Indonesia karena kurangnya referensi dalam hal ini," kata penulis, yang membutuhkan waktu lima tahun untuk menyelesaikan buku. Fadly berharap bukunya tidak hanya membuat orang Indonesia merasa lebih bangga dengan masakan lokal, tetapi mereka juga bisa memahami konsep "berbagi masakan" dan "berbagi rasa."


"Makanan yang dikonsumsi orang saat ini terutama merupakan hasil interaksi antarbudaya antara orang-orang dari banyak negara di masa lalu," katanya.

Jadi, apakah Indonesia memiliki hidangan otentik sendiri? Fadly mengatakan ya, mengutip pecel (sayuran rebus dengan saus kacang), gudeg (rebusan nangka dengan gula kelapa dan santan), papeda (bubur sagu lengket) dan rawon (sup daging gelap) sebagai contoh.

0 Response to "Melacak sejarah makanan kuliner Indonesia kaya dengan budaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel